ISLAM DAN KEMANUSIAN
DOSEN PENGAMPU :
HENDRI FIRMANSYAH ,M.
DISUSUN OLEH :
NAMA : KIKI BELA ALDIA
FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH
PRODI MANAJEMEN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI
BENGKULU
2019
KATA PENGANTAR
Kami mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelasaikan makalah ini. Yang berjudul " Islam dan Kemanusiaan”.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kepada para pembaca dan pakar dimohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Demikianlah, semoga bermanfaat.
Bengkulu, desember 2019.[1]
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………… 1
DAFTAR ISI ………………………………………………………… 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………… 3
B. Rumusan Masalah …………………………………………… 4
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian kedudukan manusia ……………………………………………. 5
B. Tugas manusia ……………………………………………… 6
C. Hubungan manusiadengan allah……………………………………………….. 7
BAB III PENUTUP
A. kesimpulan ………………………………………………………… 8
B. Daftar pustaka …………………………………………………………… 9
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tidak bisa dipungkiri, nilai-nilai humanisme universal memang menjadi pesan umum dari seluruh agama di dunia. Hanya saja dalam Islam, kita dapat menemukan contoh praksisnya dalam kehidupan Rasulullah di seluruh dimensi kehidupan, dari tingkat individu hingga level negara. Humanisme dalam bingkai tauhid itulah yang menjadikan daulah Islamiyah pada zaman Nabi hingga Khulafaurrasyidin menjadi negara egaliter meskipun kekuasaan sangat terpusat pada sosok khalifah dan lembaga penyeimbang eksekutif belum kuat, jika tidak dibilang belum ada.
Akan tetapi, sangat disayangkan, saat ini ketika berjuta manusia membutuhkan panduan yang rigid untuk kembali pada fitrah kemanusiaannya, Islam hanya ditonjolkan wajah ritual simboliknya. Bahkan tidak jarang justru ditafsirkan secara literal sebagai justifikasi berlangsungya suatu rezim feodal, kekerasan, dan teror. Tauhid pun seakan dibatasi penerapannya hanya menjadi bidang kajian keilmuan, namun tanpa praktek nyata di lapangan. Sehingga pada akhirnya Islam tenggelam dalam kejumudan umatnya, dan kehilangan aura humanisme universalnya. Nah, jika dalam pandangan sains saat ini sedangngetrend mengenai istilah integralisme agar sains lebih memberi sumbangan positif pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Maka, tidak ada salahnya jika cara pandang integral tadi juga diterapkan pada pemahaman keislaman. Mungkin ini saatnya pandangan fiqh-sentris, khilafah-sentris, tekstual-sentris, dan juga kontekstual-sentris mulai diintegrasikan agar aura keislaman yang manusiawi muncul kembali dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi pada kehidupan manusia secara keseluruhan.[3]
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kedudukan manusia dimuka bumi?
2. Apa tugas manusia di muka bumi?
3. Bagaimana akhlak dalam pandangan Islam?
4. Tujuan Penulisan
5. Untuk mengetahui kedudukan manusia dimuka bumi.
6. Untuk mengetahui tugas manusia di muka bumi.
7. Untuk mengetahui akhlak dalam pandangan Islam. [4]
A. Pengertian Kedudukan Manusia
Manusia pada dasarnya tidak dapat memahami tentang dirinya secara pasti, karena ketidakmungkinan manusia untuk dapat berdiri di tempat netral dan memandang dirinya dari luar dirinya sendiri.Oleh karena itu manusia bisa mengenali hakikat dirinya sendiri melalui pemberitahuan dari Pencipta manusia itu sendiri, yakni Allah SWT. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Di dalam Al-Qur’an banyak diceritakan atau bahkan dijelaskan tentang manusia. Manusia bisa mengetahui hakikat dirinya dengan cara mengkaji dan memahami Al-Qur’an.
Dalam Al-Quran terdapat tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia: basyar, insan dan an-nas.
1. Basyar
Basyar yang dalam Al-Quran disebut sebanyak 27 kali, memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. Sebagai makhluk biologis, manusia dapat dilihat dari perkataan Maryam kepada Allah pada surat Ali-Imrdan [3]:
Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, Padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah Dia.
Nabi Muhammad Saw di suruh Allah menegaskan bahwa secara biologis, ia seperti pada manusia lain. Allah berfirman pada surat Al-Kahfi [18]:
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
Makna basyar yang berarti manusia dilihat dari sisi lahiriyah (biologis) dikuatkan dalam firman Allah surat Al-Anbiya 34-35:
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.”Fushilat [41]:
“Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.”
Orang- orang yang menentang Nabi atau orang kafir selalu berkata, perkataan itu ditegaskan dalam surat Al-Furqan [25]:
Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?”
Makan dan minum merupakan kebiasaan manusia yang menunjukkan kepada pemenuhan kebutuhan biologisnya. Pada surat Yusuf [12]: 31 dikatakan bahwa ketika para wanita Mesir terkagum-kagum terhadap ketampanan Yusuf a.s.
Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia."
Semua kata basyar dalam Al-Qur’an menunjukkan gejala umum yang nampak pada fisiknya atau lahiriyahnya. Dengan demikian pengertian basyar tidak lain adalah manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan aktivitas lahiriyahnya yang dipengaruhi oleh dorongan-dorongan biologis, seperti makan, minum dan akhirnya mati sebagai kegiatannya di dunia.
2. Insan
Insan yang dalam Al-Qur’an di sebut sebanyak 65 kali, digunakan untuk menyatakan manusia dalam lapangan yang amat luas, antara lain:
a) Dalam konteks ilmu. Manusia didorong untuk meraih pengetahuan sebanyak-banyaknya dan pengetahuan merupakan karunia khusus bagi manusia. Allah mengajarkan kepada manusia segala sesuatu yang tidak mungkin diketahui oleh makhluk lainnya. Firman Allah dalam surat Al-‘Alaq 1-4:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.”
b) Manusia memiliki musuh, yakni syetan. Syetan merupakan suatu kekuatan yang selalu berusaha menarik manusia untuk menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma Illahi. Syetan bisa berwujud jin ataupun manusia. Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 5:
Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."
c) Manusia sebagai khalifah di bumi. Allah telah menjadikan manusia sebagai “wakil-Nya” di bumi, yang berarti manusia memiliki kewenangan dan kekuasaan kepada manusia, apapun yang ada di bumi telah Allah sediakan kepada manusia untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tanpa melakukan kerusakan di muka bumi. Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 72:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.
D) Manusia dalam hubungannya dengan kualitas moralnya.
Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Kelemahan manusia yang paling dasar dan menyebabkan manusia berdosa adalah kepicikannya (dhaif) dan kesempitan pikirannya (qathr). Oleh karena itu manusia bisa jatuh kepada kesesatan, baik berupa kesombongan, keegoisan, ketamakan, kecerobohan dan sebagainya.
Dengan demikian makna insan yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah manusia dilihat dari sisi bagaimana manusia melakukan kegiatan yang disadari oleh kapasitas akalnya serta aktuslisasi dalam kehidupan secara konkrit, yaitu perencanaan, tindakan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Manusia dalam konteks insanselalu berkaitan dengan unsur rohani.
3. An-Nas
Konsep kunci yang ketiga adalah an-nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. An-nasdisebut dalam Al-Quran sebanyak 240 kali. Sebagai makhluk sosial, an-nas dapat kita lihat dalan beberapa segi.
a) Ungkapan wa min an-nas (dan diantara sebagian manusia) dalam A-Qur’an menunjukan manusia dalam konteks kelompok sosial dengan karakteristiknya. Dengan memperhatikan ungkapan tersebut, dalam Al-Qur’an ditemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman tapi sebetulnya tidak beriman, yang mengambil sekutu terhadap Allah, yang hanya memikirkan kehidupan dunia, yang menyembah Allah dengan iman yang lemah, yang menjual pembicaraan yang menyesatkan, meskipun ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk Allah.
b) Ungkapan aktsarun-nas (kebanyakan manusia) dalam Al-Qur’an menunjukan bahwa sebagian besar manusia mempuanyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu maupun iman.
c) Al-Qur’an menegaskan bahwa petunjuk Al-Qur’an bukan hanya dimaksudkan kepada manusia secara perorangan, tetapi juga manusia secara keseluruhan. An-nas sering dihubungkan dengan petunjuk atau al-Kitab.
Dalam uraian di atas jelaslah bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki fitrah kemudian berproses dengan menggunakan kapasitas dan kemampuan akalnya, dapat menunjukan derajat kemanusiaannya yang sejati sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Manusia dapat memikirkan dan mencermati hukum-hukum alam ciptaan Allah yang akan melahirkan ilmu pengetahuan untuk dipergunakannya dalam rangka mengelola dan memakmurkan alam secara kreatif di muka bumi dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai Illahiyah.
Konsep basyar dan insan yang telah dijelaskan di atas merupakan konsep Islam tentang manusia sebagai individu. Sedangkan dalam hubungan sosial, Al-Qur’an memberi istilah an-nas yang merupakan bentuk jamak dari insan. Dan dapat kita simpulkan bahwa kedudukan manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial; makhluk biologis dan makhluk psikologis (spiritual). Manusia adalah gabungan antara unsur material (basyar) dan unsur rohani. Dari segi hubungannya dengan Allah, kedudukan manusia adalah sebagai hamba dan makhluk terbaik (khalifah).[4]
B. Tugas Manusia
Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa manusia sebagai hamba-Nya memiliki tugas untuk selalu beribadah kepada Allah.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Tugas ibadah yang dimaksud dalam ayat tersebut bukan hanya ibadah yang bersifat khusus, yakni menyembah Allah dengan cara-cara yang secara teknis telah diatur dalam Sunnah. Tetapi ibadah disini mencakup ibadah umum juga, yaitu adanya keyakinan bahwa seluruh perbuatan kita yang bersifat horizontal semata-mata diperuntukkan bagi Allah. Oleh karena itu, menolong sesama, menghormati orang tua, mendoakan yang terkena musibah, serta kegiatan lainnya merupakan ibadah kepada Allah.
Dalam Islam, tidak ada pemisahan antara ibadah yang bersifat vertikal dan ibadah yang bersifat horizontal. Sebagai kegiatan ibadah yang bersifat vertikal, shalat, misalnya, dilakukan untuk mengingat Allah.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dalam ayat di atas, secara vertikal shalat adalah suatu betuk ibadah yang paling utama dalam menyembah dan mengingat Allah. Dan secara horizontal shalat berfungsi sebagai pencegah dari perbuatan dosa, fahsya dan munkar.
Dapat diambil kesimpulan bahwa ibadah khusus (vertikal) adalah tugas manusia sebagai hamba Allah, dan ibadah umum (horizontal) adalah tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dengan demikian manusia sebagai hamba Allah dan khalifah merupakan kesatuan yang menyempurnakan nilai kemanusiaannya sebagai makhlik Allah yang memiliki kebebasan berkreasi dan sekaligus menghadapkannya kepada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya kepada keterbatasan.
Perwujudan kualitas keinsanian manusia ini tidak terlepas dari konteks sosial, atau dengan kata lain kekhalifahan manusia pada dasarnya diterapkan pada konteks individu dan sosial yang berporos pada Allah, seperti firman Allah:
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
Dalam ayat di atas dapat dipahami, bahwa kualitas kemanusiaan sangat tergantung pada kualitas berkomunikasi dengan Allah, melalui ibadah dan kualitas berinteraksi sosial melalui muamalah.
Manusia sebagai khalifah dan hamba Allah merupakan kesatuan yang menyempurnakan nilai kemanusiaannya sebagai makhluk Allah yang memiliki kebebasan memilih dan berkreasi, sekaligus menghadapkannya kepada tuntutan kodratnya yang menempatkan posisinya kepada keterbatasan yang menuntut ketaatan dan ketundukan kepada Allah. Perpaduan antara tugas ibadah dan peran khalifah ini mewujudkan manusia yang dicita-citakan, yakni insan kamil (manusia yang sempurna).[5]
C. Hubungan manusia dengan Allah
Dalam hubungan manusia dengan Allah, manusia sebagai hamba dan Allah sebagai Tuhan. Penghambaan manusia kepada Allah memiliki nilai ketaatan, ketundukan dan kepatuhan. Manusia sebagai hamba wajib mentauhidkan Allah, menjauhkan diri dari perbuaatan syirik, bertakwa kepada Allah, meminta pertolongan hanya kepada Allah, berdzikir di kala siang maupun malam, serta selalu bertawakal kepada-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah:152).
Dalam firman Allah di atas, telah dijelaskan bagaimana seharusnya hubungan seorang hamba kepada Tuhannya; bahwa hamba haruslah mengingat Allah dalam segala keadaan dan setiap waktu serta selalu bersyukur atas segala ketetapan-Nya.
Masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hubungan seorang hamba dengan Allah. Diantaranya Al-Ikhlas ayat 1-4, An-Nisa ayat 1, Al-Mu’minun ayat 60, Ar-Ra’d ayat 28, dan Ali Imran ayat 159.
b. Hubungan manusia dengan sesama manusia
Tuntunan berakhlak mulia antara sesama manusia dapat dibedakan berdasarkan objek yang didasarkan pada struktur keluarga atau masyarakat. Di antara akhlak mulia dalam bidang ini adalah sebagai berikut:
1) Anjuran bersilaturahmi dan haram memutuskannya. Dalam riwayat hadits Muslim dikatakan bahwa orang yang ingin rezekinya melimpah dan pengaruhnya melekat, hendaklah bersilaturahmi. Disamping itu Rasulullah saw melarang untuk memutuskannya. Beliau mengatakan bahwa orang yang memutuskannya tidak akan masuk syurga.
2) Berbuat baik kepada orang tua. Dalam Al-Qur’an terdapat perintah untuk berbuat baik kepada orang tua:
3) Berbuat baik kepada tetangga. Ajaran berbuat baik kepada tetangga disabdakan oleh Nabi Muhammad saw dalam dua cara, yaitu dalam bentuk perintah dan dalam bentuk larangan. Dalam sabdanya, Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk berbuat baik kepada tetangga:
ومن كان يؤمن بالله واليلوم الاخر فاليكرم جاره
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tetangga. (HR. Muslim)
Adapun pernyataan yang berupa larangan menyakiti tetangga adalah sebagai berikut:
لايدخل الجنة من لايأمن جاره بوائقه
Tidak masuk syurga orang yang tidak memuliakan tetangganya. (HR. Muslim)
Dari dalil-dalil yang telah dikemukakan di atas, jelaslah bahwa kita sebagai manusia wajib berbuat baik terhadap sesama, baik melalui ucapan, perbuatan maupun prasangka.
c. Hubungan manusia dengan alam
Akhlak kepada alam atau lingkunan adalah bahwa manusia tidak dibolehkan melakukan kerusakan di muka bumi. Dalam surat Al-A’raf ayat 56:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Cegahan untuk melakukan kerusakan di bumi mencakup berbagai kerusakan. Kerusakan di alam ini adalah akibat dari perbuatan manusia. Dalam surat Ar-Rum ayat 41, Allah berfirman:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Keseimbangan alam wajib kita jaga agar tidak terkena bencana.
Metode yang digunakan dalam pencapaian akhlak terdapat tiga cara, yaitu :
1. Takhalli, yakni mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan maksiat lahir dan batin. Para ahli menyatakan dengan “al-takhalli bi al-akhlak al-sayyiah” (mengosongkan diri dari sifat tercela).
2. Tahalli, yaitu mengisi diri dengan sifat-sifat mahmudah (terpuji) secara lahir dan batin. Para ahli menyatakan “al-tahalli bi al-akhlak al-hasanah” (mengisi dari sifat-sifat baik). Sebagai konsekuensinya, sesorang yang telah meninggalkan semua sifat-sifat tercelah, maka ia mencoba mengisi diri dengan akhlak yang mahmudah (terpuji) seperti al-amanah atau dapat dipercaya sebagaimana firman Allah pada surat an-Nisa ayat 104.
Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
3. Tajalli, yaitu merasa akan keagungan Allah SWT. Para ahli menyatakan dengan “al-tajalli ila Rabb al-bariyyah” (merasa akan keagungan Tuhan manusia). Untuk mencapai metode tajalli, maka seseorang dituntut melakukan musyarathah (memperingati diri agar tidak berbuat maksiat). Muqarabah (mengawasi diri agar tidak berbuat maksiat), muhasabah (menghitung dan introspeksi diri atas amal yang dibuat), mu’aqabah (menghukum diri jika melakukan kesalahan), mujahadah (bersungguh-sungguh lahi dan batin dalam beribadah), mu’atabah (menyesali diri atas berbuat hina dan tidak beramal saleh), syariah-Nya atau ketentuan yang tidak serius.[6]
KESIMPULAN
Kedudukan manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial; makhluk biologis dan makhluk psikologis (spiritual). Manusia adalah gabungan antara unsur material (basyar) dan unsur rohani. Dari segi hubungannya dengan Allah, kedudukan manusia adalah sebagai hamba dan makhluk terbaik (khalifah).
Tugas manusia sebagai khalifah dan hamba Allah merupakan kesatuan yang menyempurnakan nilai kemanusiaannya sebagai makhluk Allah yang memiliki kebebasan memilih dan berkreasi, sekaligus menghadapkannya kepada tuntutan kodratnya yang menempatkan posisinya kepada keterbatasan yang menuntut ketaatan dan ketundukan kepada Allah. Perpaduan antara tugas ibadah dan peran khalifah ini mewujudkan manusia yang dicita-citakan, yakni insan kamil (manusia yang sempurna).
Akhlak dibagi menjadi dua yakni akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) dan akhlak tercela (al-akhlaq al-mazhmumah). Akhlak mulia adalah akhlak yang sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasulullah saw, sedangkan akhlak tercela adalah akhlak yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasulullah atau akhlak yang melanggar perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.[7]
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Atang Abd. dan Jaih Mubarok. 2006. Metodologi Studi Islam. Bandung: Rosda.
Muhaimin dkk. 2007. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Jakarta: Prenada.
Syahidin dkk. 2009. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: Alfabeta.
[1] Dr. H. Syahidin dkk. Moral dan Kognisi Islam. (Bandung: Alfabeta, 2009), hal. 23
[2] Drs. Atang Abd. Hakim dan Dr. Jaih Mubarok. (Bandung: Rosda, 2006 ), hal. 205
[3] Dr. H. Syahidin, dkk. Op.cit., hal. 26[8]
DOSEN PENGAMPU :
HENDRI FIRMANSYAH ,M.
DISUSUN OLEH :
NAMA : KIKI BELA ALDIA
FAKULTAS USHULUDIN ADAB DAN DAKWAH
PRODI MANAJEMEN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI
BENGKULU
2019
KATA PENGANTAR
Kami mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT. Yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelasaikan makalah ini. Yang berjudul " Islam dan Kemanusiaan”.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kepada para pembaca dan pakar dimohon kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Demikianlah, semoga bermanfaat.
Bengkulu, desember 2019.[1]
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………… 1
DAFTAR ISI ………………………………………………………… 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………… 3
B. Rumusan Masalah …………………………………………… 4
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian kedudukan manusia ……………………………………………. 5
B. Tugas manusia ……………………………………………… 6
C. Hubungan manusiadengan allah……………………………………………….. 7
BAB III PENUTUP
A. kesimpulan ………………………………………………………… 8
B. Daftar pustaka …………………………………………………………… 9
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tidak bisa dipungkiri, nilai-nilai humanisme universal memang menjadi pesan umum dari seluruh agama di dunia. Hanya saja dalam Islam, kita dapat menemukan contoh praksisnya dalam kehidupan Rasulullah di seluruh dimensi kehidupan, dari tingkat individu hingga level negara. Humanisme dalam bingkai tauhid itulah yang menjadikan daulah Islamiyah pada zaman Nabi hingga Khulafaurrasyidin menjadi negara egaliter meskipun kekuasaan sangat terpusat pada sosok khalifah dan lembaga penyeimbang eksekutif belum kuat, jika tidak dibilang belum ada.
Akan tetapi, sangat disayangkan, saat ini ketika berjuta manusia membutuhkan panduan yang rigid untuk kembali pada fitrah kemanusiaannya, Islam hanya ditonjolkan wajah ritual simboliknya. Bahkan tidak jarang justru ditafsirkan secara literal sebagai justifikasi berlangsungya suatu rezim feodal, kekerasan, dan teror. Tauhid pun seakan dibatasi penerapannya hanya menjadi bidang kajian keilmuan, namun tanpa praktek nyata di lapangan. Sehingga pada akhirnya Islam tenggelam dalam kejumudan umatnya, dan kehilangan aura humanisme universalnya. Nah, jika dalam pandangan sains saat ini sedangngetrend mengenai istilah integralisme agar sains lebih memberi sumbangan positif pada kehidupan manusia secara keseluruhan. Maka, tidak ada salahnya jika cara pandang integral tadi juga diterapkan pada pemahaman keislaman. Mungkin ini saatnya pandangan fiqh-sentris, khilafah-sentris, tekstual-sentris, dan juga kontekstual-sentris mulai diintegrasikan agar aura keislaman yang manusiawi muncul kembali dan pada akhirnya akan memberikan kontribusi pada kehidupan manusia secara keseluruhan.[3]
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kedudukan manusia dimuka bumi?
2. Apa tugas manusia di muka bumi?
3. Bagaimana akhlak dalam pandangan Islam?
4. Tujuan Penulisan
5. Untuk mengetahui kedudukan manusia dimuka bumi.
6. Untuk mengetahui tugas manusia di muka bumi.
7. Untuk mengetahui akhlak dalam pandangan Islam. [4]
A. Pengertian Kedudukan Manusia
Manusia pada dasarnya tidak dapat memahami tentang dirinya secara pasti, karena ketidakmungkinan manusia untuk dapat berdiri di tempat netral dan memandang dirinya dari luar dirinya sendiri.Oleh karena itu manusia bisa mengenali hakikat dirinya sendiri melalui pemberitahuan dari Pencipta manusia itu sendiri, yakni Allah SWT. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Di dalam Al-Qur’an banyak diceritakan atau bahkan dijelaskan tentang manusia. Manusia bisa mengetahui hakikat dirinya dengan cara mengkaji dan memahami Al-Qur’an.
Dalam Al-Quran terdapat tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia: basyar, insan dan an-nas.
1. Basyar
Basyar yang dalam Al-Quran disebut sebanyak 27 kali, memberikan referensi pada manusia sebagai makhluk biologis. Sebagai makhluk biologis, manusia dapat dilihat dari perkataan Maryam kepada Allah pada surat Ali-Imrdan [3]:
Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, Padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah Dia.
Nabi Muhammad Saw di suruh Allah menegaskan bahwa secara biologis, ia seperti pada manusia lain. Allah berfirman pada surat Al-Kahfi [18]:
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
Makna basyar yang berarti manusia dilihat dari sisi lahiriyah (biologis) dikuatkan dalam firman Allah surat Al-Anbiya 34-35:
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); Maka Jikalau kamu mati, Apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.”Fushilat [41]:
“Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.”
Orang- orang yang menentang Nabi atau orang kafir selalu berkata, perkataan itu ditegaskan dalam surat Al-Furqan [25]:
Dan mereka berkata: "Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang Malaikat agar Malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?”
Makan dan minum merupakan kebiasaan manusia yang menunjukkan kepada pemenuhan kebutuhan biologisnya. Pada surat Yusuf [12]: 31 dikatakan bahwa ketika para wanita Mesir terkagum-kagum terhadap ketampanan Yusuf a.s.
Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia."
Semua kata basyar dalam Al-Qur’an menunjukkan gejala umum yang nampak pada fisiknya atau lahiriyahnya. Dengan demikian pengertian basyar tidak lain adalah manusia dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan aktivitas lahiriyahnya yang dipengaruhi oleh dorongan-dorongan biologis, seperti makan, minum dan akhirnya mati sebagai kegiatannya di dunia.
2. Insan
Insan yang dalam Al-Qur’an di sebut sebanyak 65 kali, digunakan untuk menyatakan manusia dalam lapangan yang amat luas, antara lain:
a) Dalam konteks ilmu. Manusia didorong untuk meraih pengetahuan sebanyak-banyaknya dan pengetahuan merupakan karunia khusus bagi manusia. Allah mengajarkan kepada manusia segala sesuatu yang tidak mungkin diketahui oleh makhluk lainnya. Firman Allah dalam surat Al-‘Alaq 1-4:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam.”
b) Manusia memiliki musuh, yakni syetan. Syetan merupakan suatu kekuatan yang selalu berusaha menarik manusia untuk menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma Illahi. Syetan bisa berwujud jin ataupun manusia. Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 5:
Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."
c) Manusia sebagai khalifah di bumi. Allah telah menjadikan manusia sebagai “wakil-Nya” di bumi, yang berarti manusia memiliki kewenangan dan kekuasaan kepada manusia, apapun yang ada di bumi telah Allah sediakan kepada manusia untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya, tanpa melakukan kerusakan di muka bumi. Firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 72:
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[1233] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh.
D) Manusia dalam hubungannya dengan kualitas moralnya.
Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Kelemahan manusia yang paling dasar dan menyebabkan manusia berdosa adalah kepicikannya (dhaif) dan kesempitan pikirannya (qathr). Oleh karena itu manusia bisa jatuh kepada kesesatan, baik berupa kesombongan, keegoisan, ketamakan, kecerobohan dan sebagainya.
Dengan demikian makna insan yang disebutkan dalam Al-Qur’an adalah manusia dilihat dari sisi bagaimana manusia melakukan kegiatan yang disadari oleh kapasitas akalnya serta aktuslisasi dalam kehidupan secara konkrit, yaitu perencanaan, tindakan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Manusia dalam konteks insanselalu berkaitan dengan unsur rohani.
3. An-Nas
Konsep kunci yang ketiga adalah an-nas yang mengacu pada manusia sebagai makhluk sosial. An-nasdisebut dalam Al-Quran sebanyak 240 kali. Sebagai makhluk sosial, an-nas dapat kita lihat dalan beberapa segi.
a) Ungkapan wa min an-nas (dan diantara sebagian manusia) dalam A-Qur’an menunjukan manusia dalam konteks kelompok sosial dengan karakteristiknya. Dengan memperhatikan ungkapan tersebut, dalam Al-Qur’an ditemukan kelompok manusia yang menyatakan beriman tapi sebetulnya tidak beriman, yang mengambil sekutu terhadap Allah, yang hanya memikirkan kehidupan dunia, yang menyembah Allah dengan iman yang lemah, yang menjual pembicaraan yang menyesatkan, meskipun ada sebagian orang yang rela mengorbankan dirinya untuk Allah.
b) Ungkapan aktsarun-nas (kebanyakan manusia) dalam Al-Qur’an menunjukan bahwa sebagian besar manusia mempuanyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu maupun iman.
c) Al-Qur’an menegaskan bahwa petunjuk Al-Qur’an bukan hanya dimaksudkan kepada manusia secara perorangan, tetapi juga manusia secara keseluruhan. An-nas sering dihubungkan dengan petunjuk atau al-Kitab.
Dalam uraian di atas jelaslah bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki fitrah kemudian berproses dengan menggunakan kapasitas dan kemampuan akalnya, dapat menunjukan derajat kemanusiaannya yang sejati sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Manusia dapat memikirkan dan mencermati hukum-hukum alam ciptaan Allah yang akan melahirkan ilmu pengetahuan untuk dipergunakannya dalam rangka mengelola dan memakmurkan alam secara kreatif di muka bumi dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai Illahiyah.
Konsep basyar dan insan yang telah dijelaskan di atas merupakan konsep Islam tentang manusia sebagai individu. Sedangkan dalam hubungan sosial, Al-Qur’an memberi istilah an-nas yang merupakan bentuk jamak dari insan. Dan dapat kita simpulkan bahwa kedudukan manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial; makhluk biologis dan makhluk psikologis (spiritual). Manusia adalah gabungan antara unsur material (basyar) dan unsur rohani. Dari segi hubungannya dengan Allah, kedudukan manusia adalah sebagai hamba dan makhluk terbaik (khalifah).[4]
B. Tugas Manusia
Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa manusia sebagai hamba-Nya memiliki tugas untuk selalu beribadah kepada Allah.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Tugas ibadah yang dimaksud dalam ayat tersebut bukan hanya ibadah yang bersifat khusus, yakni menyembah Allah dengan cara-cara yang secara teknis telah diatur dalam Sunnah. Tetapi ibadah disini mencakup ibadah umum juga, yaitu adanya keyakinan bahwa seluruh perbuatan kita yang bersifat horizontal semata-mata diperuntukkan bagi Allah. Oleh karena itu, menolong sesama, menghormati orang tua, mendoakan yang terkena musibah, serta kegiatan lainnya merupakan ibadah kepada Allah.
Dalam Islam, tidak ada pemisahan antara ibadah yang bersifat vertikal dan ibadah yang bersifat horizontal. Sebagai kegiatan ibadah yang bersifat vertikal, shalat, misalnya, dilakukan untuk mengingat Allah.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dalam ayat di atas, secara vertikal shalat adalah suatu betuk ibadah yang paling utama dalam menyembah dan mengingat Allah. Dan secara horizontal shalat berfungsi sebagai pencegah dari perbuatan dosa, fahsya dan munkar.
Dapat diambil kesimpulan bahwa ibadah khusus (vertikal) adalah tugas manusia sebagai hamba Allah, dan ibadah umum (horizontal) adalah tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dengan demikian manusia sebagai hamba Allah dan khalifah merupakan kesatuan yang menyempurnakan nilai kemanusiaannya sebagai makhlik Allah yang memiliki kebebasan berkreasi dan sekaligus menghadapkannya kepada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya kepada keterbatasan.
Perwujudan kualitas keinsanian manusia ini tidak terlepas dari konteks sosial, atau dengan kata lain kekhalifahan manusia pada dasarnya diterapkan pada konteks individu dan sosial yang berporos pada Allah, seperti firman Allah:
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
Dalam ayat di atas dapat dipahami, bahwa kualitas kemanusiaan sangat tergantung pada kualitas berkomunikasi dengan Allah, melalui ibadah dan kualitas berinteraksi sosial melalui muamalah.
Manusia sebagai khalifah dan hamba Allah merupakan kesatuan yang menyempurnakan nilai kemanusiaannya sebagai makhluk Allah yang memiliki kebebasan memilih dan berkreasi, sekaligus menghadapkannya kepada tuntutan kodratnya yang menempatkan posisinya kepada keterbatasan yang menuntut ketaatan dan ketundukan kepada Allah. Perpaduan antara tugas ibadah dan peran khalifah ini mewujudkan manusia yang dicita-citakan, yakni insan kamil (manusia yang sempurna).[5]
C. Hubungan manusia dengan Allah
Dalam hubungan manusia dengan Allah, manusia sebagai hamba dan Allah sebagai Tuhan. Penghambaan manusia kepada Allah memiliki nilai ketaatan, ketundukan dan kepatuhan. Manusia sebagai hamba wajib mentauhidkan Allah, menjauhkan diri dari perbuaatan syirik, bertakwa kepada Allah, meminta pertolongan hanya kepada Allah, berdzikir di kala siang maupun malam, serta selalu bertawakal kepada-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah:152).
Dalam firman Allah di atas, telah dijelaskan bagaimana seharusnya hubungan seorang hamba kepada Tuhannya; bahwa hamba haruslah mengingat Allah dalam segala keadaan dan setiap waktu serta selalu bersyukur atas segala ketetapan-Nya.
Masih banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hubungan seorang hamba dengan Allah. Diantaranya Al-Ikhlas ayat 1-4, An-Nisa ayat 1, Al-Mu’minun ayat 60, Ar-Ra’d ayat 28, dan Ali Imran ayat 159.
b. Hubungan manusia dengan sesama manusia
Tuntunan berakhlak mulia antara sesama manusia dapat dibedakan berdasarkan objek yang didasarkan pada struktur keluarga atau masyarakat. Di antara akhlak mulia dalam bidang ini adalah sebagai berikut:
1) Anjuran bersilaturahmi dan haram memutuskannya. Dalam riwayat hadits Muslim dikatakan bahwa orang yang ingin rezekinya melimpah dan pengaruhnya melekat, hendaklah bersilaturahmi. Disamping itu Rasulullah saw melarang untuk memutuskannya. Beliau mengatakan bahwa orang yang memutuskannya tidak akan masuk syurga.
2) Berbuat baik kepada orang tua. Dalam Al-Qur’an terdapat perintah untuk berbuat baik kepada orang tua:
3) Berbuat baik kepada tetangga. Ajaran berbuat baik kepada tetangga disabdakan oleh Nabi Muhammad saw dalam dua cara, yaitu dalam bentuk perintah dan dalam bentuk larangan. Dalam sabdanya, Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk berbuat baik kepada tetangga:
ومن كان يؤمن بالله واليلوم الاخر فاليكرم جاره
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah memuliakan tetangga. (HR. Muslim)
Adapun pernyataan yang berupa larangan menyakiti tetangga adalah sebagai berikut:
لايدخل الجنة من لايأمن جاره بوائقه
Tidak masuk syurga orang yang tidak memuliakan tetangganya. (HR. Muslim)
Dari dalil-dalil yang telah dikemukakan di atas, jelaslah bahwa kita sebagai manusia wajib berbuat baik terhadap sesama, baik melalui ucapan, perbuatan maupun prasangka.
c. Hubungan manusia dengan alam
Akhlak kepada alam atau lingkunan adalah bahwa manusia tidak dibolehkan melakukan kerusakan di muka bumi. Dalam surat Al-A’raf ayat 56:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Cegahan untuk melakukan kerusakan di bumi mencakup berbagai kerusakan. Kerusakan di alam ini adalah akibat dari perbuatan manusia. Dalam surat Ar-Rum ayat 41, Allah berfirman:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Keseimbangan alam wajib kita jaga agar tidak terkena bencana.
Metode yang digunakan dalam pencapaian akhlak terdapat tiga cara, yaitu :
1. Takhalli, yakni mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan maksiat lahir dan batin. Para ahli menyatakan dengan “al-takhalli bi al-akhlak al-sayyiah” (mengosongkan diri dari sifat tercela).
2. Tahalli, yaitu mengisi diri dengan sifat-sifat mahmudah (terpuji) secara lahir dan batin. Para ahli menyatakan “al-tahalli bi al-akhlak al-hasanah” (mengisi dari sifat-sifat baik). Sebagai konsekuensinya, sesorang yang telah meninggalkan semua sifat-sifat tercelah, maka ia mencoba mengisi diri dengan akhlak yang mahmudah (terpuji) seperti al-amanah atau dapat dipercaya sebagaimana firman Allah pada surat an-Nisa ayat 104.
Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap dari pada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
3. Tajalli, yaitu merasa akan keagungan Allah SWT. Para ahli menyatakan dengan “al-tajalli ila Rabb al-bariyyah” (merasa akan keagungan Tuhan manusia). Untuk mencapai metode tajalli, maka seseorang dituntut melakukan musyarathah (memperingati diri agar tidak berbuat maksiat). Muqarabah (mengawasi diri agar tidak berbuat maksiat), muhasabah (menghitung dan introspeksi diri atas amal yang dibuat), mu’aqabah (menghukum diri jika melakukan kesalahan), mujahadah (bersungguh-sungguh lahi dan batin dalam beribadah), mu’atabah (menyesali diri atas berbuat hina dan tidak beramal saleh), syariah-Nya atau ketentuan yang tidak serius.[6]
KESIMPULAN
Kedudukan manusia adalah sebagai makhluk individu dan makhluk sosial; makhluk biologis dan makhluk psikologis (spiritual). Manusia adalah gabungan antara unsur material (basyar) dan unsur rohani. Dari segi hubungannya dengan Allah, kedudukan manusia adalah sebagai hamba dan makhluk terbaik (khalifah).
Tugas manusia sebagai khalifah dan hamba Allah merupakan kesatuan yang menyempurnakan nilai kemanusiaannya sebagai makhluk Allah yang memiliki kebebasan memilih dan berkreasi, sekaligus menghadapkannya kepada tuntutan kodratnya yang menempatkan posisinya kepada keterbatasan yang menuntut ketaatan dan ketundukan kepada Allah. Perpaduan antara tugas ibadah dan peran khalifah ini mewujudkan manusia yang dicita-citakan, yakni insan kamil (manusia yang sempurna).
Akhlak dibagi menjadi dua yakni akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah) dan akhlak tercela (al-akhlaq al-mazhmumah). Akhlak mulia adalah akhlak yang sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasulullah saw, sedangkan akhlak tercela adalah akhlak yang tidak sesuai dengan perintah Allah dan ajaran Rasulullah atau akhlak yang melanggar perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.[7]
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Atang Abd. dan Jaih Mubarok. 2006. Metodologi Studi Islam. Bandung: Rosda.
Muhaimin dkk. 2007. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Jakarta: Prenada.
Syahidin dkk. 2009. Moral dan Kognisi Islam. Bandung: Alfabeta.
[1] Dr. H. Syahidin dkk. Moral dan Kognisi Islam. (Bandung: Alfabeta, 2009), hal. 23
[2] Drs. Atang Abd. Hakim dan Dr. Jaih Mubarok. (Bandung: Rosda, 2006 ), hal. 205
[3] Dr. H. Syahidin, dkk. Op.cit., hal. 26[8]
Komentar
Posting Komentar